Trinity Optima Production Lebarkan Sayap Jadi Perusahaan Entertainment di Indonesia

- Jumat, 25 November 2022 | 12:27 WIB
CEO Trinity Optima Production Yonathan Nugroho. (Trinity Optima Production)
CEO Trinity Optima Production Yonathan Nugroho. (Trinity Optima Production)

JAKARTADAILY.ID - Perusahaan label rekaman dan manajemen artis Trinity Optima Production (TOP) melebarkan sayap dengan menjajaki bidang bisnis non musik lewat beberapa unit bisnisnya. Seperti beberapa proyek film, series di platform OTT, brand extension artis, sampai investasi ke beberapa startup di Indonesia.

CEO TOP Yonathan Nugroho memaparkan aksi usaha ini adalah bagian dari persiapan perusahaan yang akan bertransisi menjadi group holding company
dalam waktu dekat. Meski demikian, jantung bisnis utama sebagai label rekaman dan manajemen artis akan tetap berjalan dan menjadi prioritas revenue TOP.

"Saat ini kami sedang bersiap menjadi korporasi entertainment Indonesia, menimbang perusahaan dan team management sudah memiliki bekal ilmu dan pengalaman yang solid untuk mencapai agenda-agenda yang lebih besar lagi,” ujarnya di Jakarta, Jumat, 25 November 2022.

Salah satu bentuk komitmen TOP untuk menjadi grup usaha adalah dengan mengembangkan perusahaan investasi Trinity Ventures untuk memperluas jangkauan jaringan dan peluang kolaborasi. Arah investasi Trinity Ventures sendiri
menganut paham yang lebih independen, artinya perusahaan terbuka untuk berinvestasi di luar core bisnis TOP, selama dipandang visioner dan memiliki inovasi yang disruptif.

Baca: Investree Luncurkan Produk Pinjaman Usaha Mikro untuk Tumbuhkan Pengusaha Mikro Lewat Digitalisasi

Sementara itu, aksi ekspansi perusahaan ke sektor pendanaan lumrah dilakukan. CEO Jagartha Advisor FX Iwan menyebutkan, pola corporate venture capital (CVC) biasanya terbagi menjadi dua mazhab.

"Pertama, mereka yang percaya CVC ada untuk berinvestasi pada bisnis yang dekat dengan core bisnis mereka sendiri, atau disebut Horizon 1 (Inovasi secara bertahap dan berkelanjutan). Biasanya CVC ini akan berinvestasi pada bisnis-bisnis yang sudah dikenal, pernah bekerja sama. Sementara itu, ada CVC yang dibuat dengan misi menjadi independen dari grup usaha. CVC ini akan menarget bisnis apapun, termasuk di luar core mereka. Seringnya disebut investasi ke Horizon 2 dan 3 (Inovasi Disruptif),” papar Iwan.

Ia mengatakan, hal di atas lumrah terjadi dan tidak ada yang lebih baik antara pilihan satu dengan yang lainnya. “Setiap holding company pasti kan punya pertimbangan sendiri untuk mengarahkan bisnisnya agar tetap di kuadran mature, jangan sampai di titik jenuh. Poinnya adalah perusahaan yang mau menjadi group holding company harus paham betul setiap unit bisnis baru yang akan dibentuk, visi misinya apa, agar tidak kanibal pada existing business yang ada,” tambahnya.

Trinity Ventures sendiri telah berinvestasi ke beberapa merek dan startup di Indonesia sejak pertama kali dirintis tahun 2021. Menariknya, Trinity Ventures memiliki dua metode investasi yang terinspirasi dari value TOP sebagai management
artist.

Halaman:

Editor: Priyanto Sukandar

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X